|
Di lahan tandus sekalipun, bisa ditanami tanaman yang memiliki potensi ekonomi tinggi. Itu bisa mendatangkan uang hingga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Namun masalahnya apakah masyarakat mau mengelolanya. Tentu strategi pengelolaan tanah dan cara bertani yang efektif menjadi modal utama. Hal itulah yang diungkapkan Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Pusat Dr Ir Benny Pasaribu MEc saat meninjau perkebunan cabainya di Desa Ambarita Kecamatan Simanindo, Samosir, Minggu (2/12).
"Jika masyarakat tetap mengandalkan cara pengelolaan tanah tradisional, tentu penghasilan masyarakat tidak meningkat, sekaligus kehidupannya pun biasa-biasa saja," jelasnya.
Terdorong untuk mengembangkan sektor pertanian di desanya, Benny mengembangkan perkebunan cabai yang diharapkan menjadi model pertanian bagi masyarakat setempat. Mulai dari teori pengelolaan tanah, pemilihan bibit unggul, perawatan, pemupukan, dan penyiangan, hingga analisis musim dan potensi kenaikan harga, dibeberkan Benny melalui perkebunan unggulannya itu.
Bahkan, beberapa ahli pertanian dari Pulau Jawa pun didatangkan untuk mengurusi kebunnya sehari-hari sekaligus untuk menjadi mitra masyarakat dalam mengembangkan pertanian. "Dalam menyampaikan suatu keinginan, tidak cukup dengan kata-kata. Namun antara teori dan praktek harus dibuktikan. Karenanya saya membuka perkebunan ini agar bisa menjadi model pembelajaran bagi masyarakat," ujar Benny Pasaribu, yang juga salah satu calon Gubsu untuk lima tahun ke depan.
Di luas lahan sekitar lima hektar itu, Benny mengembangkan tanaman cabai. "Banyak ahli pertanian yang pintar secara teori. Tetapi kita tidak tahu apakah mereka terjun ke lapangan untuk mengaplikasikan ilmunya atau tidak," kata Benny. Awalnya, lahan tandus di kaki bukit itu pun dikelolanya dengan bantuan traktor. Selanjutnya pupuk kompos baik dari kotoran hewan dan tanah humus pun ditaburkan sekedar untuk penggemburan tanah, dan di atasnya ditanami 15.000 batang cabai per hektarnya.
Berbekal pola pengembanan pertanian yang baik, tanaman cabai kini tumbuh menghijau dan siap dipanen di penghujung tahun ini. Dikatakan, pertanaman cabai dapat menghasilkan buah hingga 1 kg. "Biasanya di penghujung tahun, harga cabai naik drastis, hingga mencapai Rp 20.000 per kg. Secara matematis, dengan asumsi harga Rp 20.000 dikali 75 ton, hasilnya Rp 1,5 miliar. Andaipun dikurangi biaya operasional, tetap untung banyak," kata Benny.
Di satu sisi, Benny mengakui kelemahan petani terutama dari sisi modal, namun itu bisa diatasi melalui koperasi, pinjaman dana, atau patungan, asalkan ada komitmen.
Terkait dengan minimnya pengetahuan cara bertani yang baik, menurutnya cukup banyak lembaga pertanian yang siap mendampingi petani. Dalam hal ini juga ungkapnya, peran pemerintah harus ditunjukkan melalui pemberdayaan pertanian masyarakat.
Pola mata pencaharian masyarakat saat ini dinilainya telah bergeser. Seolah masyarakat khususnya di desa ingin meninggalkan sektor pertanian. Namun pada kenyataannya, pendapatan masyarakat tidak meningkat dan bahkan mengeluh. Padahal, sektor pertanian begitu sangat menjanjikan.
Sumut sambung Benny memiliki potensi beragam, utamanya pertanian, perkebunan, pariwisata, dan pertambangan. Jika diberdayakan, tentu akan mampu menambah pendapatan daerah sekaligus bagi kesejahteraan masyarakat. "Karenanya jika saya berkesempatan memimpin Sumut, pemberdayaan potensi yang ada menjadi potensi utama untuk mengembangkan Sumut bagi kesejahteraan masyarakat," ujarnya. *
|